Thursday, April 27, 2006

Guruku di Negeri Samurai

Puisi ini dibacakan saat menyambut kedatangan Prof.Dr.H.M Surya (Ketua PB PGRI, anggota DPD-MPR RI) ke Tokyo dalam rangka pelantikan PGRI Tokyo tanggal 25 April 2006. Pembaca puisi ini adalah Ni Luh Swara Paramitha, siswa SD SRIT dan pernah Juara Lomba Baca Puisi Forum Lingkar Pena (FLP) Jepang. Saat puisi ini dibacakan banyak mata yang berkaca-kaca, entah kenapa? . Berikut ini adalah Puisinya.

GURUKU DI NEGERI SAMURAI
Karya Ubedilah Badrun

Aku baru satu tahun
Masuk sekolah Indonesia ini
Jujur saja, aku jatuh cinta sama Sekolah ini
Disini aku diajarkan tentang kebersamaan
Tentang kebangsaan
Tentang kebudayaan
Tentang kemajuan
Dan tentang sebuah persahabatan antar bangsa

Hati kecilku meyakini
Sekolah ini begitu berarti
Ada tangan-tangan mulia yang membina kami
Yang membawa kami kesejatinya hidup
Ia adalah guru-guru kami

Enam bulan lalu
Di pagi hari
Ku temukan data guru-guru
Ku pikir ini hanya terjadi di Indonesia
Setumpuk data tagihan hutang
Di Koperasi sekolah

Pagi itu kumenyapa pak Guru yang bersepeda itu
Guratan wajahnya menampakkan keletihan
Tapi kubaca bathinnya
Guruku masih punya semangat membaja

Dua bulan lalu kupernah ingin bermain ke rumah Guruku
Pinjam buku pikirku
Sepuluh langkah lagi kan sampai ke rumahnya
Tapi kubatalkan

Kuamati Apatto Guruku yang mungil
Seketika kubayangkan wajah guruku yang berkeringat mengayuh Sepeda
Kubayangkan semangatnya yang membaja ketika mengajar
Saat itu…
Dalam tatap mata Apatto tua itu
Kuteteskan air mata
Ohh…guruku
Adakah cinta untukmu ?!

Kini..
Kehadiran bapak-bapak
Dan kepedulian pemimpin BKS yang baru
Memberi secercah harapan
Bagi guru-guruku tersayang

Untuk Duta Besar Dari Diplomat Kecil

Puisi ini dibacakan oleh Ni Luh Swara Paramitha saat HUT Sekolah sekaligus Perpisahan dengan Dubes Tokyo Mr.Abdul Irsan tanggal 22 April 2006. Ni Luh Swara Paramitha adalah Siswi SD SRIT dan pernah Juara Lomba Puisi Forum Lingkar Pena Jepang. Saat puisi ini dibacakan tidak sedikit yang bisa menahan air matanya, entah kenapa ? Berikut ini puisinya :

Untuk Duta Besar Dari Diplomat Kecil
Karya Ubedilah Badrun


Tiga tahun lalu
Bapak ke negeri matahari ini
Kami anak-anak pernah takut mendekati bapak
Sepertinya bapak seorang yang galak

Dua tahun lalu
Bapak masih di negeri samurai ini
Kami ingat ketika bapak menjadi Pembina upacara tujuh belasan
Bapak gagah sekali menghormat Merah Putih
Kami kagum

Satu tahun lalu
Bapak masih di negeri sakura ini
Kami ingat ketika bapak hadir diulang tahun sekolah kami
Bapak hadir sampai acara berakhir
Sungguh hari itu sangat berharga bagi kami

Tahun demi tahun
Bapak memberi warna bagi kami
Bagi pentingnya membawa Merah Putih
Dalam diplomasi

Kami ingat saat hari pahlawan diperingati
Bapak bilang bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawanya
Nampaknya Bapak begitu mengagumi Bung Karno
Begitu juga kami, karena ia seorang Proklamator

Kami ingat saat bapak membuka pintu lebar-lebar diwaktu lebaran
Semua orang datang menemui bapak
Pegawai KBRI, Guru-guru kami, Mahasiswa,
Para Trainee, sampai Ibu-ibu dan kami anak-anak
Bapak begitu merakyat
Wisma Duta seperti rumah kami
Kami suka bermain disana

Saat ini…
Adalah hari-hari masa akhir tugas bapak
Hari segala amanah telah tertunaikan
Hari segala suka dan duka telah menyatu dalam keindahan
Seindah mekar sakura yang sempurna

Selamat jalan bapak…selamat menjalankan tugas baru
Jejak muliamu akan kami teruskan
Membawa Merah Putih dalam diplomasi kami

Thursday, March 23, 2006

Perang !

PERANG !?
By Ubedilah Badrun

Entahlah….
Ini puisi atau bukan
Mungkin…
Ini bahasa hati
Atau bisa jadi
Ini bahasa yang mewakili
Mewakili siapa?
Bukan mewakili siapa-siapa
Hanya mewakili yang merasa terwakili
Tapi….bisa jadi
Ini mewakili anak-anak dunia

Ini ditulis saat Kevin Sites Via Videophone
berada di Iraq Utara
melaporkan perkembangan perang
lewat CNN..
Perang !!!
Ya !, genderang perang dimulai
Rudal-rudal telah diluncurkan..dan…
Anak-anak nampak berlumuran darah
Mengerang….kesakitan
Terengah-engah..dan…
Matanya tertutup untuk selamanya…
Dengan kelopak matanya yang tertutup
Seakan memberi pesan :
“Peluk aku...”
“Peluuukk”
“Peluk erat”
“Rasakan betapa detak jiwa ini telah terhenti”
“Betapa tetesan darah ini mengakhiri”
“Mengakhiri segalanya”
“Mengakhiri masa bermainku”
“Mengakhiri citaku untuk mendamaikan dunia”
“Aku pergi”
“Bersama kehilangan masa depanku”
“Coba beri aku jawaban !”
“Mengapa Amerika memerangi kami ?”
“Mengapa PBB tidak berkutik ?”
“Katanya Peradaban sudah modern,
Orang-orang sudah rasional,
Tapi perang tetap terjadi ! Mengapa?”
“Aku Cuma punya satu jawaban”
“Aku Benci Perang !!!”

Untuk Kamu

Untuk Kamu
By Ubedilah Badrun


Ketika malam mulai hadir
Kutatap penuh makna
Sinar rembulan
Yang ciptakan bayang-bayang dedaunan malam

Kubawa rasa
Sentuh rembulan
Untuk yang Satu
Yang ku mau

Ada kedamaian….
Ada kelembutan…..
Yang mengalir deras
Ikuti…merah…darahku……

Ketulusan ini
Kesucian ini
Hanya ku mau
Untukmu

Tirani Cinta

Tirani Cinta
By Ubedilah Badrun

Ketika Sukma Manusia
Menembus Relung rasa
Semua Tak ada
Hanya tulus …Melangit …….
Temui bintang - bintang

Ku kayuh gairah
Ku rengkuh jiwa yang hampa
Indah ku tatap…..
Hangat kudekap…..
Ohh….,dahaga…..

Setetes embun pagi
Bawa jiwa ini
Kembali…..
Temui yang suci

Secawan memerah
Rubah sejuta harap
Runtuhkan ………
Rasa Kebebasan………

Runtuhkan…….
Tirani Cinta .

Tuesday, March 14, 2006

Belajar Dari CIntanya Ibu Pada Ayah

Belajar Dari Cintanya Ibu Pada Ayah
oleh: Ubedilah Badrun


Daun-daun putri malu dipekarangan sebelah barat rumah masih kuncup, suara jatuhnya buah jambu air masih terdengar, dan cahaya pagi masih belum menyapa. Peci yang digunakan sholat subuh masih melekat dikepala Ayah. “ Kang Haji, kita sarapan yuuk, ada nasi goreng loh !” begitu Ibu memanggil Ayah saat pagi tiba. Ibu tiap pagi senang sekali menyiapkan nasi goreng dengan berbagai variasi untuk kami semua. Kata-kata “kang haji” hampir tiap pagi saya dengar dan bagi saya yang waktu itu masih kelas 3 SD kata-kata itu enak sekali didengar, apalagi Ibu nampak ceria, cantik dan memiliki kelembutan dari pancaran wajahnya saat mengucapkan kata-kata itu. Suasana pagi di kampung itu begitu indah, selalu indah, dan sulit bagi saya melupakan masa-masa itu.
Jika hari libur tiba, usai sholat subuh dan sarapan pagi, Ayah membawa kami berempat (dua kakak saya yang perempuan , saya sendiri dan adik saya yang masih kecil) ke kebun. Jarak dari rumah ke kebun kurang dari dua kilo meter. Di kebun itulah kami dikenalkan dengan hamparan pohon pisang, kacang panjang, semangka, mangga, kedondong, cabe merah, bawang merah, pohon petai dan hamparan tanaman padi yang mulai berbunga. Ayah membutuhkan 3 orang untuk mngelola kebon tersebut. Kami dikenalkan ayah dengan mereka dan dikenalkan bagaimana terlibat menanam pohon pisang dan tanaman lainya. Setelah itu kami sibuk membenahi tanaman yang keliatannya rusak, meskipun saya dan kakak kebanyakan bermainnya ketimbang membereskan tanaman yang rusak. Sementara Ayah sibuk beneran membenahi selokan kebun yang penuh lumpur. Saat zhuhur tiba, Ibu datang beserta bibi yang membantu memasak membawakan masakan untuk makan siang kami. Ibu dengan senyumnya yang manis mendekati Ayah yang sedang mencangkuli slokan yang memisahkan tanggul-tanggul kebun cabe merah kesukaan Ayah, lalu suara Ibu terdengar “kang haji, istirahat dulu”. Seperti biasanya Ayah menyambutnya dengan senyum hangat dan bergegas menghampiri Ibu dengan penuh semangat. Makan siang pun dimulai di bawah gubuk tepi perkebunan yang diiringi semilir angin yang menyegarkan. Itulah hari-hari sesekali kami lakukan ketika hari libur. Hari dimana kami menyaksikan ceria dan hangatnya Ibu pada Ayah disiang hari.
Kesibukan Ayah ketika saya masih kelas 3 SD itu nampak begitu luar biasa, dari urusan pengajian dengan teman-temannya, menjahit pakaian sesuai pesanan di waktu libur, bisnis batik dan sarung disejumlah butik di Cirebon, bisnis distribusi padi dan buah-buahan ke Jakarta sampai mengurus kebun dan sawah. Suatu ketika Ayah sakit keras memakan waktu cukup lama untuk istirahat, kira-kira 3 bulan lamanya. Waktu itu saya tidak mengerti sakit apa yang diderita Ayah, yang saya tahu Ayah terus berbaring ditempat tidur dan sering didatangi dokter dan mantri (sebutan orang desa bagi perawat laki-laki yang bekerja di Puskesmas, sering berperan seperti dokter ). Saat itulah saya menyaksikan setiap pagi Ibu membangunkan Ayah yang terbaring, lalu mengelap sekujur tubuh Ayah dengan handuk kecil yang dibasahi air hangat, lalu mengingatkannya untuk sholat subuh. Ketika Ayah buang air besar pun Ibu tanpa ragu menemani Ayah dan membimbingnya. Sesekali mereka tersenyum berdua. Semantara saya, kakak, dan adik hanya terdiam sambil mendo’akan kesembuhan untuk Ayah. Ketika malam tiba, Ibu selalu mendampingi Ayah, dan tidak jarang kami melihat Ibu tertidur duduk disamping Ayah sambil keduanya berpegangan tangan. Seolah ada bahasa hati yang hanya mereka rasakan saat keduanya berpegangan tangan tanpa kata-kata hingga terbawa kantuk, tertidur dan nampak begitu damai.
Hari-hari menemani Ayah sakit sering kami diajak nenek dan kakek bercerita. Dari cerita masa muda mereka sampai cerita masa-masa Ibu dan Ayah belum menikah. Disini saya baru tahu bahwa Ibu dan Ayah adalah dua sosok yang sebelum pernikahan sama sekali tidak saling mengenal, Ibu dan Ayah berbeda pesantren ketika mereka muda Ibu yantri di wilayah Jawa Barat sementara Ayah di sebuah pesantren di Jawa Tengah .Yang saling mengenal justru kedua orang tua mereka masing-masing. Walhasil mereka dijodohkan karena perkenalan antar orang tua yang juga malang melintang di dunia pesantren. Masa ketika kami belum lahir adalah masa ketika Ibu menemani Ayah mengajarkan Alqur’an kepada masyarakat. Masa ketika penduduk kampung merasakan sentuhan ruhani Ibu dan Ayah. Hingga kemudian amanah dakwah itu dialihkan keujung perkampungan dimana saudara Ayah mendirikan Musholla pertama kali di desa itu.
Masa dimana Ibu harus memendam rindu yang amat dalam ketika Ayah menunaikan ibadah ke tanah suci. Pada waktu itu kata kakek, ke tanah suci membutuhkan waktu yang sangat lama, kurang lebih empat bulan lamanya. Tentu sebuah penantian yang amat lama bagi Ibu menunggu kedatangan Ayah pulang dari ibadah haji. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kerinduan Ibu ditinggal berbulan-bulan tanpa komunikasi. Tidak ada komunikasi karena memang tidak ada alat komunikasi apapun yang bisa membantu untuk menanyakan kabar. Boro boro internet seperti saat ini, telfon pun tidak ada. “Kang Haji….” Itulah kalimat yang terucap saat Ibu menyambut kehadiran Ayah pulang dari tanah suci. Kalimat itu kata Ibu muncul begitu saja ketika wajah Ayah yang bersih berseri tersenyum melihat Ibu. Sejak itu Ayah suka jika mendengar kalimat itu dan sejak itu Ibu selalu menggunakan kalimat panggilan yang disukai Ayah itu.
Ya, masa-masa Ayah sakit adalah masa dimana segala cerita tentang Ibu dan Ayah diceritakan kakek dan nenek. Hari-hari ketika Ayah sakit itu adalah hari-hari dimana Ibu tiap pagi dan sore mengelap tubuh Ayah dengan handuk kecil yang dibasahi air hangat. Hingga Ayah kemudian pulih dan bekerja seperti biasanya. Ketika Ayah sembuh dokter dan mantri pun terheran-heran. Sentuhan dan ketulusan Ibu nampaknya turut memepercepat kesembuhan Ayah. Hari-hari kemudian diisi Ayah dengan segala aktifitasnya yang seabreg, dari rutinitas di majelis pengajian hingga bisnis buah-buahan ke Jakarta. Untuk beberapa hari kadang kami hanya bersama Ibu. Segala urusan dirumah dan lain-lainya Ibu yang menangani. Kadang kami sering membuat Ibu sedikit cemberut dan kesal karena mandi sore yang tidak tepat waktu sehingga kadang diantara kami terlambat sholat berjamaah di Mushollah dan terlambat belajar ngaji.

**************** ******** ***************

“ini surat dari seseorang”
“surat apa ini?” tanyaku pada adik temanku yang pagi-pagi memberikan surat.
“saya dititipi seseorang untuk memberikan surat ini”
“ya sudah , nanti saya kasih ke Ibu”
Surat itu kemudian langsung saya berikan ke Ibu. Surat itu tidak langsung di baca, tapi disimpan dilemari. Malam hari saya lihat Ibu agak malam tidurnya dan tidak biasanya baca Alqur’an sangat lama. Lalu saya lihat Ibu melipat surat dan menyimpannya kembali dilemari dan kemudian merebahkan tubuhnya untuk tidur.


Hari itu cuaca begitu cerah hingga waktu Ashar tiba, Ibu menyambut Ayah yang baru datang dari Jakarta dengan senyum manisnya. Seperti biasanya Ayah selalu membawa oleh-oleh, ada buku-buku tulis dan buah-buahan yang tidak ada di kampung waktu itu. Kami semua senang menikmati oleh-oleh dari Ayah, begitu juga Ibu. Makan malam kami rasakan malam itu begitu nikmat, sebab lauk pauknya lebih bervariasi karena Ayah datang. Ibu selalu menyediakan menu yang lebih menarik jika Ayah baru datang dari Jakarta.
“Ubed…pagi ini Ibu harus pergi dulu untuk beberapa hari” sapa Ibu pagi-pagi setelah semuanya sudah sarapan. Tidak ada kata-kata sedikitpun dari Ayah ketika mendengar perkataan Ibu pagi itu, kami memahami bahwa Ayah telah setuju dengan kepergian Ibu.
“Loh Ibu mau kemana?” tanyaku
“ Ibu harus ke rumah kakek dan nenek” jawab Ibu
Setelah mengucapkan salam lalu Ibu pergi bersama bibi dengan wajah yang agak menunduk sedikit tertutupi oleh kerudungnya. Kami semua terkaget-kaget dengan peristiwa pagi itu. “adakah ini terjadi berhubungan dengan surat kemaren?” tanyaku dalam hati. Hari itu kami lalui dengan aktifitas seperti biasanya, pagi sekolah SD, siang ke Madrasah, dan malam ke Musholah. Ketika mengaji di Musholah saya bertemu teman adikku yang mengantar surat dan dia mengatakan surat itu seharusnya diberikan untuk Ayahku. Sontak saja saya terkaget, sebab saya seharusnya memberikan surat itu untuk Ayah. Malam terasa sepi, makan malam yang biasanya semangat, malam itu mendadak nafsu makanku berkurang. “Ada apa gerangan semua ini?”
Dua malam kami semua sangat kesepian, tetapi pagi itu kami semua terkaget sebab Ibu keluar dari kamar tidur Ayah. “Ibuu…” ucap kami menghentakkan pagi itu dan kami semua anak-anaknya berlari memeluk Ibu.
“Loh kok Ibu sudah datang enggak bilang-bilang ?” tanyaku
“ Iya tadinya Ibu mau membangunkan kalian, tapi kalian sudah tertidur saat Ibu datang” jawab Ibu
“Loh Ibu malam-malam datang sendirian?” tanyaku lagi
“Enggak dong, sama Ayah, Ayahmu menjemput Ibu malam-malam” jawab Ibu.
Kami semua senyum kembali pagi itu. Kembali menikmati nasi goreng khas buatan Ibu. Hari-hari kemudian kami lalui seperti sedia kala. Ibu yang sering mengoreksi tilawah dan hafalanku saat pulang dari mengaji kembali kurasakan. Hari-hari sentuhan kasih sayang Ibu kembali kurasakan begitu dalam. Tapi hari-hari itu juga rasa penasaranku pada isi surat itu masih ada. Segala cara saya mencari tahu apa isi surat itu dan siapa pengirimnya. Hingga akhirnya saya hanya tahu siapa pengirim surat itu tanpa tahu isinya hingga saat ini. Pembuat surat itu adalah seorang janda karena suaminya meninggal dan dulu pernah menjadi santriwati disebuah musholah semi pesantren di kampung dimana Ayah cukup dekat dengan almarhum suaminya.
“Ehmmm…Ibu mungkin cemburu dengan adanya surat itu” gumamku dalam hati. Tapi Ibu memang hebat, rahasia itu sangat kuat disimpannya hingga saat ini, yang Ibu tunjukkan secara tulus dan kami saksikan sehari-hari adalah cintanya yang kuat pada Ayah.


Ketika kami anak-anaknya sudah menginjak usia remaja, Ibu selalu bergantian dengan Ayah saling membangunkan untuk mengisi malam-malam menjelang subuh dengan qiyamullail. Ibu yang betah berjam-jam menemani Ayah menyelesaikan bacaan al-Qur’an dan zdikir-zdikirnya menjelang subuh tiba. Ibu yang selalu kreatif menghidangkan masakannya untuk Ayah. Semua masakan kesukaan Ayah selalu dibuatnya yang setiap harinya berbeda-beda, dari sayur lodeh, sayur asem, sop, urab, dan dengan lauk yang sangat beragam dari ikan goreng, ikan panggang, hingga ikan pecak sambal jeruk nipis.
Pernah suatu ketika Ibu ke Jakarta ke rumah kami yang baru berrumah tangga. Baru dua hari Ayah langsung datang. Segera saja kami menyambutnya dengan suka cita.
“Loh…katanya Ayah enggak kesini karena sudah tiga bulan lalu Ayah baru saja dari sini?” tanya istriku saat usai makan siang dan sambil duduk santai.
“hehehehe…Ayah kangen sama Ibu, kangen semuanya dari masakannya sampai yang lainya” jawab Ayah dengan wajah yang ceria.
Mendengar jawaban itu kami semua tersenyum ceria sambil bertanya “kangen apa kangennnnn? hehehehe”
Mendengar pertanyaan itu, Ayah hanya tersenyum penuh kebahagiaan. Sementara Ibu tersipu malu, lalu ikut tersenyum dengan senyum manisnya. Sejenak saya berfikir saat itu, “Ibu hebat telah membuat Ayah makin jatuh cinta diusianya yang makin senja !”

**************** *********** *******************

Beberapa minggu menjelang bulan Ramadhan 2004 saya menerima telfon dari istriku sayang, yang mengabarkan Ayah sakit dan sudah dibawa ke rumah sakit di Cirebon. Lalu, istri, anakku dan Ibu mertua segera meluncur ke Cirebon. Menurut cerita istri, secara bergantian keluarga di Indramayu menemani Ayah dirumah sakit, dari Ibu yang berhari-hari menemani Ayah sampai adik-adikku dan saudara-saudara Ayah dan Ibuku. Setelah beberapa mingu di rumah sakit, di awal Ramadhan saat Ibu harus ke rumah satu malam tidak berada di rumah sakit, kesesokan harinya Ayah langsung minta pulang dan memberi tahu Ibu agar Ibu tidak usah kembali ke rumah sakit sebab Ayah sudah mau pulang. Disitu Ayah mengatakan” pengen segera pulang kerumah, ingin merasakan ramadhan bersama Ibu di rumah“. Kehadiran Ibu dan kebersamaan dengan Ibu bagi Ayah adalah sesutau yang amat berharga.
Dari negeri sakura saya bertanya-tanya “mengapa Ayah begitu mencintai Ibu?”. Lalu, saya mengingat-ingat kembali bentangan sejarah masa lalu ketika Ayah pernah bercerita diawal pernikahannya saat baru dikarunia satu anak (kakak perempuanku yang pertama). Saat dimana Ayah mengelola sawah berhektar-hektar dan ditanami padi semua, saat itu berhektar-hektar padi yang baru berbunga terserang hama wereng dan ulat hingga gagal panen, hanya ada kira-kira satu kwintal gabah tersisa yang tidak terserang wereng dan ulat secara total. Saat itu sulit bagi ayah menerima kenyataan itu, beberapa impian Ayah untuk merencanakan hal-hal baru kandas. Saat itu ibu adalah sosok pemberi semangat yang sangat berharga bagi Ayah yang hampir putus asa karena melalui hari-hari dengan kesedihan. Pada saat itu tidak sedikit petani yang kehilangan akal sehatnya dan menderita sakit-sakitan. Ibu begitu tabah menemani Ayah dihari-hari kesedihan itu, hari dimana mimpi-mimpi indah untuk membangun rumah telah kandas. Ayah menyebutnya “sebuah kesabaran yang luar biasa”. Ya, ini bagian kecil dari ingatanku ketika Ayah pernah bercerita saat aku menginjak bangku SMP.
Ayah kemudian meminta pulang ke rumah, tidak mau dihotel yang isinya semua orang sakit. Begitu Ayah mengomentari rumah sakit itu. Lalu, hari-hari kemudian adalah hari dimana Ibu menemani Ayah Ramadhan di rumah dengan kondisi kesehatan Ayah yang makin menurun. Kehangatan dan kasih sayang Ibu untuk Ayah melampaui anak-anaknya yang selalu berebut berlomba untuk mengurusi Ayah. Saya jadi teringat ketika tiga bulan sebelumnya saya bertemu Ayah saat libur musim panas. Ibu selalu orang pertama yang menyediakan apa yang disukai Ayah, sebelum anak-anaknya melakukan hal yang sama.
Hari di bulan Ramadhan musim gugur 2004 itu saya tidak berada di tanah air, hari dimana Ibu kehilangan kekasihnya yang harus menjumpai Kekasih Abadinya, menjumpai Sang Kholik. Innalillahi Wainnailaihiraajiuun. Hari dimana saya harus segera ke tanah air. Hari dimana air mata Ibu mengalir hangat di pipinya , menetes. Air mata keabadian cinta, air mata ketulusan cinta pada suami dan ridho karena Sang Kholik memanggil suami tercintanya. Hari dimana cium sayang Ibu untuk Ayah terakhir kalinya di dunia ini sebelum dikuburkan. Hari dimana setiap manusia akan mengalaminya, menjumpai pemiliknya, pemilik alam semesta, pemilik segala manusia. Hari dimana akhir cinta Ibu pada Ayah telah menjadi contoh bagi kami yang selalu kami kenang .

Friday, March 03, 2006

Ketika Anak Mulai Bertanya

Ketika Anak Mulai Bertanya “Mengapa”?
Oleh: Ubedilah Badrun

Selama 20 hari di awal januari 2006 lalu saya pulang ke tanah air. Banyak kisah-kisah menarik yang tidak saya publikasikan di blog ini. Tetapi satu diantaranya saya share di blog ini, soal ini : Ketika Anak Mulai Bertanya “Mengapa”?.
Hampir tiap hari saya diberondong pertanyaan mengejutkan dengan kata tanya “mengapa?”. Kalau yang bertanya sang kekasih, sahabat setia, alias istriku yang kini sedang morning sick, bisa saya jawab dengan gaya yang khas, dan special. Tetapi Sana Shabira Turfa yang bertanya, sosok yang tiga tahun lalu Umi-nya berjuang melahirkannya. Ya, Shabira mempertanyakan berbagai hal yang kadang butuh waktu yang tidak sebentar merumuskan jawabannya.
“ Ayah, mengapa Ayah menikah sama umi ?” pertanyaan ini tiba-tiba muncul disaat bertiga bersama Uminya di kamar menjelang kami tidur. Umi-nya langsung melirik saya dengan senyum dan langsung menjawab “ karena Ayah sayang bangett sama Umi”. Dengan cepat saya mengikuti ucapan istri, sehingga bunyinya bersamaan. Shabira mengangguk, meluk bantal guling sambil malu-malu dikit, lalu baca do’a sebelum tidur. Saat Shabira terlelap dan Umi-nya mulai memejamkan mata dan nampak keletihan yang tulus di wajahnya setelah seharian melakukan perjalanan dari kampung ke Jakarta, saya merenungi pertanyaan Shabira. “Ayah mengapa Ayah menikah sama Umi?” Saya coba telusuri darimana muncul pertanyaan itu. Lalu saya inget peristiwa dua hari sebelumnya bahwa Shabira baru saja menyaksikan pamannya menikah. Saat akad nikah seperti biasanya ada khutbah nikah yang sangat bermanfaat bagi pasangan baru maupun pasangan lama. Terlepas dari peristiwa dua hari lalu itu, pertanyaan itu seolah mengingatkan saya sebagai Ayahnya untuk kembali meluruskan niat apa hakikat dari sebuah pernikahan. Lalu teringatlah saya pada kisah-kisah pernikahan, dari kisah Rasulullah dengan khadijah, sampai kisah Ali Bin Abi Thalib dengan Fatimah. Alhamdulillah ya Allah Engkau ingatkan hamba melalui anak kami untuk terus menjaga niatan suci sebuah perkawinan untuk mencapai sakinah, mawaddah warohmah, dan berjuang membangun generasi baru dan ummat dalam bingkai dakwah yang tak kenal lelah.
“Ayah, Ayah, mengapa Ayah tidak pake jilbab?” lagi-lagi Shabira membuat pertanyaan ketika kami hendak berangkat menuju kota wisata. Pertanyaan itu muncul saat Shabira mengenakan jilbabnya sendiri yang biasa dilakukanya sebelum keluar rumah. Spontan saya jawab “karena Ayah laki-laki” sambil saya bereskan jilbab Shabira yang agak miring. “Kalau perempuan wajib pake jilbab”. Seperti biasanya kalau sudah mendengar jawaban yang jelas dan logis shabira langsung diem. Lalu ketika sore tiba, Shabira minta dibacakan cerita tentang Kaniya dalam buku cerita islami bergambar. Di dalam buku cerita itu dihalaman tengah ada peristiwa pembantu jatuh karena minyak goreng yang tumpah di lantai dapur. Di cerita bergambar itu kebetulan gambar pembantunya tidak pake jilbab, dan Shabira kembali bertanya “Ayah kok Bibi-nya Kaniya tidak pake Jilbab?” “Kan dia perempuan?”. Nah loh saya langsung cukup bingung juga dengan pertanyaan spnntan itu, dan dengan cepat saya merumuskan jawaban sebentar dan langsung bilang “Karena Bibi-nya Kaniya belum pake Jilbab”. Shabira langsung diem dan dengan semangat mendengarkan cerita. Dari pertanyaan tentang jilbab ini saya jadi tersadarkan betapa argumentasi logis amat penting disampaikan secara jujur untuk menjawab pertanyaan anak-anak yang lagi senang bertanya untuk menemukan jawaban-jawaban dari realitas yang ada di sekitarnya.

Wallahua’lam

Tuesday, December 13, 2005

Tanah Derita Revolusi

Tanah Derita Revolusi
(ubedilah badrun)

Tanah…..
Air…..
Tumpah….
Darah…..
Tulang….
Menyatu dalam pertiwi
Merah darah Rakyat
Putih Tulang Rakyat
Tanah Merah Putih
Satukan Republik

Pertiwi sedang menangis
Setangis-tangis
Derita tsunami…..
Longsor……
Gempa…….
Banjir…….
Busung Lapar……
Bom……
Kenaikan BBM……
Telah gunungkan derita

Pejabatkah yang derita?
Tidak !!!
Konglomerat?
Tidak !!!
Kelas Menengah ?
Tidak !!!

Jelata !!
Buruh !!
Supir angkot !!
Nelayan !!
Tukang Becak !!!
Petani !!
Mayoritas penghuni bumi pertiwi ini !!
Derita ada dalam selimut hidup mereka !

Pejabat?
Emhhmm..Kolusi !!!
Korupsi !!!
Nepotisme !!!
Sikat sana Sikat sini !!! Telah jadi budaya !

Lalu
Adakah hati pengelola negeri ini?
Adakah ruh perubahan ?
Tidak ada !!
Kecuali …!
Revolusi ada di hati dan tindakan kita!!!

Lihat Lihatlah

Lihat Lihatlah
(Ubedilah Badrun)

Lihat Lihatlah
Duka sebenar-benarnya duka
Gempa dan Tsunami telah memporak porandakan Aceh
Ratusan Ribu jiwa telah tiada
Banyak anak-anak kehilangan orang tuanya

Lihat Lihatlah
Air Mata
Kesedihan
Kelaparan
Dan rasa kepedihan yang amat dalam
Terpancar dari wajah mereka

Ohh…teman-temanku
Hari ini kulihat tangis sebenar-benarnya tangis
Air matamu, air mata kehilangan yang amat dalam

Aku ingin menemui mereka
Menemani mereka dalam duka
Kutatap erat dengan mata hatiku
Kudekap erat dengan peluk suciku
dan kuteteskan air mata kehidupan
“ Temanku….kami semua anak-anak Indonesia
ingin memelukmu
dalam dekapan kasih sayang
tuk langkahi seribu jalan perjuangan
tuk songsong masa depanmu”

Lihat lihatlah
Tatap tataplah
Dengan mata hati kita

Sebirunya Biru

Sebirunya Biru
(Ubedilah Badrun)

Tinggi menjulang
penuh harap
cahaya penuh
di atas cahaya
langit biru
sebirunya biru
menembus jiwa

tulus
menyatu dalam dekap
dalam peluk erat langit biru
bersih
tanpa bias
memandang meluas
menjulang
kosong tapi ada

Hadir dalam persentuhan langit biru
Dalam bingkai jagat raya
Menyatu
Dalam garis lurus bumi dan langit
Tanpa batas
Tak terhalangi
Satu jiwa
Membiru
Sebirunya biru
Menyatu
Dalam dekap damainya kalbu

Apa Susahnya Bicara

Apa Susahnya Bicara
(Ubedilah Badrun)

Otak
Hati
Emosi
Menyatu dalam diri
Lahirkan ide-ide

Imajinasi hadir
Bagai letupan bunga api diangkasa
Membuncah memecahkan keheningan malam
Menggetarkan jiwa
Dan decak kagumpun hadir tak terbendung
Dalam kedirian sang individu

Tapi sulit dibaca
Sulit dimengerti
Sebab itu hanya imajinasi diri
Yang melahirkan harum
Pada sensifitas sel-sel otak saja

Sebab
Kunci rapat bahasa
Kunci rapat kata-kata
Tak ada kata
Yang terucap
Dari gagasanya yang terbungkus

Apa susahnya bicara
Kalau gagasan sudah setumpuk
Apa susahnya bicara
Kalau hati gundah tak terungkap
Apa susahnya bicara
Kalau lidah begitu sempurna

Katakan saja
Bahwa aku bisa bicara !!

Pencarian

Pencarian
(Ubedilah Badrun)

Lakon hidup
dalam dekap mata langit
menghujam kuat
menatap erat memeluk kuat

coba berontak
mencari sesuatu
tuk sekedar ekpresiku tak mati

kujalani bentang kehidupan
dalam bingkai lukisan indah
seindah rintik salju pagi menyentuh rerantingan kering

melangkah
melaju
tapi gagal
maknai hidup
seperti gagalnya musim semi
lindungi mekarnya sakura
ia terhempas taifun

Tapi kucoba
sebab
hidup bukan sekalinya hidup
ada harap
meski kadang cemas

Kali kedua gagal
tapi ada sesuatu
beri energi hidupku kembali
tatap jalani
meski liku, tapi ada seutas
tali lurus
kuat
kucoba pegang erat

temali cinta dan kebenaran itu
kini kupegang erat
Dalam bingkai indahnya hidup
Dalam bingkai sejatinya kebebasan dan kebenaran

Di Kereta Itu

Di Kereta Itu
(Ubedilah Badrun)

Tertatih
Nenek Tua
Renta
Peluk tiang
Dalam Gerbong Kereta Senja

Mata sayu
Wajah layu
Pucat pasih
Tak harap kasih

Berdiri tegar
Meski menahan gemetar
Ia coba bangkit
Dari persangkaan penumpang

Anak muda
Terbangun
Dari tidur lelap
Dari peluk manja gerbong hangat
Mata terbelalak

Tatap nenek Tua
Peluk erat
Dalam dekap
Ia bisikan cinta
Tuk duduk terhormat

Dan
Cinta berbalas
Sebuah buku kuno
Hadiahkan tuk sang muda.
Agar kelak makin berahlak

Aku Ini Anak-Anak

Aku Ini ANak-Anak
(Ubedilah Badrun)

Kata mamah
Aku dilahirkan 8 tahun lalu
Dalam peluk tulusnya
Kusapa dunia dengan tangis
Begitu juga teman-teman
Selalu menangis ketika baru menyapa dunia
Oaaa…oaaa…oaaa…oaaaa…

Lalu…
Kedamaian kurasa hadir
Dalam dekap hangat
Dalam belai lembut bundaku
Yang berikan ASI padaku

Kini ku tumbuh besar
Masuk sekolah dasar
Ku belajar banyak
Sampe otaku pengap

Aku enggak tau siapa yang buat pelajaran
Aku enggak tau siapa yang buat kurikulum
Aku enggak tau siapa yang buat ujian nasional

Yang kutau aku hanya ingin
Bermain dan gembira
Kata orang
Belajar bisa sambil bermain
Aku senang
Aku ingin belajar itu menyenangkan
Tolong…tolonglah…aku ingin gembira
Sebab
Aku adalah anak-anak.

Monday, December 05, 2005

Diskusi Yuuk

(Ubedilah Badrun)

Diskusi
adalah awal
ketika Tuhan mau menciptakan manusia"
ketika perubahan besar mau dimulai"
ketika peradaban dihadirkan di muka bumi"
ketika syair mau dilagukan"
ketika cinta mau disepakati"
Yoi....diskusi yuuukkkkk?

Sunday, December 04, 2005

Momiji Yang Manja




by Ubedilah Badrun

Di ganjil bulan november
Sepoi angin dingin peluk erat tubuhku
Ia selalu hadir
Dalam damai jiwaku

Hamparan bukit bukit
Menguning
Memerah
Panggil jiwa tuk bermanja

Momiji telah menaklukkanku
Dalam manjanya yang mewarna
Dalam senyum dedaunnya
Menggapai-gapai beromansa
Hadirkan sejuta pesona

Tuk katakan
Ada sesuatu yang kuat
Dari damai selimut momiji
Dari bias pancaran memerah manis

Ohh momiji yang manja
Dekap daku dalam indahmu
Dalam lahirkan imajinasiku
Tuk goreskan tinta
Dalam kertas-kertas putih
Dalam lembar sejarah hidup

Di Ujung Koen Mori

Di Ujung Koen Mori
By Ubedilah Badrun

Hembusan angin musim gugur menyelinap di sela-sela jendela, membuatku terjaga terlalu dini.. Kicau burung dan mentari pagi belum bisa kunikmati.. Maklum aku baru dua hari berada di Tokyo, aku masih terbawa kebiasaanku saat di Indonesia. Bangun jam 4 pagi, lalu mandi dan sarapan. Tapi di Tokyo? Emmmhmmm….bangun pagi begini enaknya tidur lagi!. Ujarku dengan suara yang agak keras.
“Woii ..kalau udah bangun pagi jangan tidur lagi tauuu!!!” sahut Tony teman se apato-ku yang juga terbangun.
“ Apaan , masih ngantuk tau!!” jawabku. Lalu ku coba tidur lagi, beberapa menit sempat mataku terpejam tapi tak ada kantuk yang mampu memanjakan mataku tuk kembali tidur hingga subuh tiba. Dan, air di subuh ini meski hangat tapi secepat kilat kan buat tangan dan kakiku menggigil. Ku berpikir sejenak “Ku coba lawan dingin ini dengan berlari pagi mengelilingi koen Mori, asyik juga nih kayaknya lari pagi di musim gugur” gumamku. Suasana pagi minggu itu begitu terasa meski dingin menyelimuti Tokyo.

Segera ku pake trening dan kaos berlengan panjang, pakaian olahraga pavoritku yang bermerek sandal jepit dan segera kupake sepatu kasogi kesayanganku. Lalu ku minum Ocha untuk menghangatkan badanku dan kumelesat dengan langkah lariku menuju koen yang rindang itu. Baru setengah jam ku kelilingi koen Mori aku terkaget ada sosok tergeletak di balik pohon besar. Wajahnya kusam, rambutnya bergimbal, keriting tak terurus, tak bergerak, tergeletak membujur kaku. “ Seseorang meninggal !!” gumamku. Orang orang yang melewatinya tak ada yang peduli. “Aku heran!” . Yang membuat ku heran lagi, baru 30 meter aku berlari dari sosok membujur kaku itu, ku balik menengoknya lagi dari kejauhan dan sosok membujur kaku itu telah menghilang. Ku coba usap mataku untuk meyakinkanku apakah orang itu benar-benar menghilang. Benar saja, sosok membujur kaku itu telah menghilang. “ Ah mungkin yang tadi itu sosok homeless yang tadi ketiduran dan sekarang sudah bangun dan pergi karena hentakan sepatuku yang berbunyi tepat dipinggir telinganya”.

Di ujung Barat Koen Mori dekat rerindangan pohon dan bangku-bangku yang biasa di pake untuk barbeque, sosok itu kembali hadir . Tapi dalam posisi duduk terpaku sambil berpangku tangan di meja kusam itu. Dan di mejanya tergeletak buku berhuruf kanji-kanji kuno. “Loh kok orang ini ada di sini? Bukankah tadi ada di ujung Timur Koen?!!” “Aku heran?!” “wah kalau aneh gini, aku harus lari cepat ah, apa aku kepagian yah? Langkah lariku ku kencangkan hingga sampe kembali ke apato-ku tepat pukul 6 pagi.

Sambil kunikmati roti bakar dan segelas susu kunyalakan TV, astagfirullah sosok yang kulihat tadi di koeng mukanya penuh darah dan meninggal, ia bunuh diri di deket Mushashikoyama Eki. Tapi kenapa ia bunuh diri? Dan sampe di siarkan begitu cepat di TV ? Pertanyaan ini belum bisa ku jawab sampai kesesokan harinya ketika ku kembali lari di Koen Mori di sore hari, ku kembali bertemu dengan sosok yang berwajah sama. Seperti yang diberita TV itu, berwajah kusam, pucat, berambut gimbal, dan kepalanya berlumuran darah. Tapi sore ini kutatap wajah itu tak ada darah sedikitpun, meski wajah kusam dan rambut gimbal tak terurus nampak begitu jelas ku lihat. Ia seperti biasanya membawa buku yang berhuruf kanji kuno. Loh bukankah orang ini yang kemaren diberitakan TV bunuh diri di Mushashikoyama Eki ? Samar-samar kudengar suara lirih dari mulutnya :
Aku
Hadir
Dalam kedirian
Dalam ekspresi
Menyatu dalam lonceng ego
Bahwa aku tak mau bersembunyi

Rasio
Logika
Bergerak memuncak
Ukir sejarah
Dalam alunan biola hidupku

Tapi ada Satu
Dua
Tiga
Empat
Yang melipat dalam dekap
Dan menyumbat martabat

Aneh
Satu tidak bisa
Tapi empat bisa
Tiga tidak bisa
Tapi satu bisa
Melipat dalam umpat
Mengumpat menyumbat
Memperkosa hak-hak

Kolektivisme itu menyumbatku
Individualisme itu membunuhku
Dan Egoisme itu memperkosaku
Kumati kutu dalam lipatan umpat

Tapi kumasih punya asa
Tuk babat tuntas
Sebab ia belum tuntas

Kini ku berjalan dalam harap
Sang penyumbat bisa tobat
Lalu berubah
Dan mengubah
Bahwa hidup adalah jubah hangat perubahan

Itulah puisi yang dibacanya. Sosok aneh itu seolah-olah membacakan puisi untukku, saat ku coba mendekat, disodorkannya lembaran kertas kusam itu. Dan ku asyik ngobrol dengannya. Disini ku baru tau bahwa ia sosok sastrawan Jepang pada era 70-an. Lalu yang meninggal itu? Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutku. Dan dengan terpaksa ia menjawab “ itu kembaranku, dulu ia pengusaha terkenal tahun 1975, dan 20 tahun lebih ia mengalami kebangkrutan dan bunuh diri adalah jalan terbaik menurutnya untuk mengakhiri hidup, tapi tidak bagiku !!”
“ Aku masih ingin hidup seribu tahun lagi !!”
“ Begitukan kata Chairil Anwar sastrawan Indonesia yang terkenal itu?”
“loh kok bapak tau?”
“ Ya tau lah nak, sesama sastrawan kan harus saling mengenal !”
“ Saya dulu pernah di Jakarta selama 7 tahun dan saya suka sastra Indonesia”
“Wah..wah..wah…bapak ini ternyata sastrawan hebat ! “
“ Nak…Momiji di belakangmu itu begitu indah, momiji itulah yang hebat, bukan aku, sebab dari keindahan momiji itulah kulahirkan karya-karya sastraku”

Wow..sejak peristiwa dialog ini ku makin mencintai sastra, sebab sastra bisa mewakili jiwaku, dan sastra ternyata bisa membuat sosok aneh itu begitu kuat menghadapi hidup. Terima kasih koen mori, terima kasih momiji, terima kasih sosok aneh, dan terima kasih Allah.

Asa Dari Negeri Sakura

Asa Dari Negeri Sakura

Karya Ubedilah Badrun

Angin musim semi
Berhembus sore itu
Sakura tak bisa diam
Menggeliat manja
Menari menjuntai
Menggetarkan jiwa yang membeku

Saat
Mentari kucoba peluk erat
Dalam dekap hangat sore itu
Tapi gagal
Sepoi angin musim semi
Masih menyisakan dingin

Satu dua butir kelopak sakura jatuh
Menyentuh pelipis mata yang indah
Kelopak sakura jatuh ikuti bahasa alam
Mata yang indah ikuti bahasa jiwa

Langkah satu dua
Diatas deras sungai Asakusa
Burung-burung mendekat dalam manja
Menyembunyikan cinta
Kucoba baca
Bahwa burung punya cinta dan rindu merdeka

Malam
Ketika jalan-jalan kota mulai gelap
Warna cahaya malam mulai mendekap
Kurasa pantai Odaiba itu jadi saksi
Bagi lahirnya sebuah asa
Tuk taklukan sakura

Meski asa masih bersembunyi
Dibalik temaram lampu
Dibalik sentuhan angin malam musim semi
Dan dibalik geliat manja sakura malam itu
Tapi kuyakin
Anak bangsa kan geliat lampaui sakura

Putih Salju

PUTIH SALJU
Karya: Ubedilah Badrun

Aku teriak
Berontak
Tapi ku jatuh
Dalam selimut salju

Membeku
Menyatu dalam erat
Seutas harap
Habis
Tak tersisa

Badai salju itu
Menusuk
Menyatu dalam tulang putih

Ku kecil berharap
Keluar dari selimut salju
Loncat
Kuat

Sebab
Kumasih memegang Sakura
Dalam jemari cintaku
Yang kusimpan 8 bulan
Dalam damai
Dalam putih saljuku

Gugur Merindu

GUGUR MERINDU
Karya: Ubedilah Badrun

Daun-daun
Menguning
Memerah
Jatuh

Satu-satu
Menyentuh tanah
Ikuti sepoi angin
Menabur hambur
Membentuk indah
Berjatuhan
Berguguran

Berjalan
Diantara gugur daun menguning
Rambut memanjang
Ikuti angin menghambur
Bersama dedaunan gugur

Hamparan warna memerah
Lalu mengering
Lautan kering dedaunan
Pepohon meranggas
Ranting menjulang
Membentuk sketsa indah
Dari rerantingan yang terlukis

Saat malam
Rembulan bersembunyi
Dibalik reranting itu
Cahaya malam temaniku
Dalam sendiri
Merindu
Kekasih

Langkah Otakku Masih Terlalu Pendek

Langkah Otakku Masih terlalu Pendek
by Ubedilah Badrun

Tatapannya begitu tajam melihat satu-satu wajah penumpang kereta JR Yamanote line. Matanya seperti mengolah data dari sample penelitian yang baru dikerjakan kembali setelah terbengkalai satu bulan setengah. Serius dan penuh konsentrasi. Karakternya visual yang cenderung eksakta melihat realitas. Satu-satu penumpang tak luput dari pengamatannya. Wajah oriental, mata agak sipit, rambut berwarna dan pirang, mode mutakhir, memainkan hand phone (buka internet baca referensi atau komik), baca buku, majalah, dan ada yang berdiri membisu. Wajah-wajah manusia Jepang dalam gerbong kereta itu tak luput dari pengamatan Bram. Mahasiswa S2 yang baru 7 bulan menginjakkan kakinya di negeri sakura itu tak henti-hentinya mengamati para penumpang. Kesimpulanya?.... tak satupun wajah yang mirip dengannya !

“Bukan soal wajah yang mirip denganku yang enggak ada, tapi sudah dua puluh lima menit perjalanan kok enggak ada satupun dari mereka yang tersenyum atau tertawa?!”

“Ya wajarlah mereka enggak senyum, sebab apa perlunya sih senyum? ketawa? toh enggak ada yang pantas untuk disenyumin atau diketawain”

“ Tapi masa sih enggak ada satupun pembicaraan diantara mereka yag membuat mereka senyum?” “ atau ketawa?” “ Wah mahal sekali senyum di Jepang ini!”
“ Bagaimana mereka bisa ketawa wong satu sama lain enggak ada yang ngobrol?” “Enggak ada yang kenal kali yahh?”

“ Ini etika di kereta mas! Enggak boleh ngobrol, ngeganggu sesama penumpang!” “ Mengganggu mereka yang sedang asyik membaca, mengganggu mereka yang sedang asyik bermanja dengan komiknya, mengganggu mereka yang sedang ma’syuk dengan game di hand phone-nya” “ Ssstt…diem lu, apa perlunya mikirin mereka!!”

Dialog yang ada di kepala Bram itu tiba-tiba terhenti mengikuti berhentinya kereta JR di Shinagawa Eki.

“ Mohon maaf kereta Yamanote line tidak bisa di lanjutkan beberapa menit, karena ada kecelakaan, para penumpang diperkenankan untuk pindah kereta !!” Begitu bunyi pengeras suara yang terdengar di setiap lorong gerbong yang serba dilengkapi sound dan layar informasi itu.

“ Wah gawat juga nih Jepang, pake mogok segala keretanya!”
“ Bisa berabeh nih bisa terlambat ketemu Sensei. Sekalinya terlambat bisa bikin urusan tugas kuliahku molor nih. Saya harus nelfon Sensei segera!!”

“ Hallo, moshi-moshi…..”
“Yups…sialan masih nada dering!! kirain Sensei sudah mengangkat handphonenya”
“ Aduh gimana nih?”
“Ok saya harus kirim SMS !”
“ Sensei…gomenasai watashi chikokushimashita…”


“ Wah harus pindah kereta nih, saya harus cari alternatif !”

Langsung berdiri tegak, kegelisahan nampak di wajah Bram, ia enggak peduli ada fasilitas lift dan escalator untuk pindah kereta. Lari kencang menaiki tangga adalah pilihan Bram yang memang hoby lari pagi setiap minggu di Mori Koen.

“ Saya harus lari!”
“ Saya enggak bisa ikuti gaya orang Jepang yang jalan cepat!”
“ Saya harus lariiiiiiii!!”

Keluar dari gerbong Yamanote Line Bram langsung mengambil langkah seribu, tidak sedikit orang Jepang yang terheran-heran dengan larinya Bram. Ketika 55 meter berlalu Bram tak sengaja menabrak seseorang, lalu diam tak bisa berkutik. Sedetik kemudian Bram teringat cara paling mudah untuk menyelesaikan masalah seperti ini dengan orang Jepang adalah mengucapkan kata maaf.

“ oh obasan..gomenasai…gomenasai…” Bram sambil minta maaf dan segera mengangkat tubuh nenek dan memegang tangannya lalu dicium. Sang nenek senyum penuh keheranan melihat anak muda yang berwajah ganteng-ganteng imut ini.

“ Yess !! beres !! “

Benak hati Bram lega karena sang nenek langsung tersenyum. Sebab gawat buat Bram kalau nenek itu tidak tersenyum dan bisa langsung lapor polisi. Urusannya bisa panjang dan bisa keluar ratusan ribu yen, apalagi kalau sang nenek kakinya keseleo, menuntut ganti rugi, atau kalau tidak, bisa-bisa harus di bawa ke rumah sakit sampai sembuh.

“ Aha…akhirnya bisa juga pindah jalur kearah Tokyo!”
“Thanks god”
“ Eh kok tiba-tiba ingat Tuhan sih?”
“ Enggak perlu deh!”
“ Orang Jepang aja enggak perlu Tuhan bisa tertib kaya gini”
“ Kayaknya bener deh enggak ada hubunganya antara percaya Tuhan dengan ketertiban sosial ”.
“Enggak perlu itu, yang penting aturanya ditegakkan!! Pasti tertib!”
“ Buktinya ya Jepang ini!!”

Kebiasaan dialog di otak Bram enggak berhenti sepanjang gerbong kereta membawanya kearah Tokyo.




“ Wah Sensei kemana yah? “ kalimat pertama yang muncul dari mulut Bram sesampainya di laboratorium. Mata Bram langsung kearah sudut ruangan, TV yang sedari tadi menyala di tatapnya dalam-dalam, presenter berita TV NNN menyampaikan breaking news.

“Satu mayat perempuan muda ditemukan tewas di rel kereta api arah Tokyo !” “ Di duga perempuan muda itu tewas karena bunuh diri !” Begitu suara Akio Kawasaki di layar kaca.

“Wah..wah..wah…pantesan tadi kereta di Shinagawa berhenti, itu toh sebabnya?” gumam Bram sambil sedikit mengamati korban dan lokasi kejadian yang ditayangakan televisi swasta itu.

“ Tapi dipikir-pikir, itu perempuan nekat bangett bunuh diri di rel kereta?”
“ Saya enggak bisa membayangkan sakitnya tubuh dan kepala berbenturan dengan gerbong kereta?!”
“Gila juga tuh perempuan?!
“Apa untungnya bunuh diri?”
“Di usia muda lagi?”
“ Ah!.. Bram ini, masih belum paham juga?”
“Itu pilihan mas !” “ menyangkut harga diri !”

Bram mengakhiri diskusinya dengan dirinya sendiri.

“ Bram San, Konichiwa?” Takeshi Sensei menyapa Bram tiba-tiba dari arah belakang.
“ Oh Sensei…Konichiwa Sensei” Sahut Bram dengan wajah ceria.
“ Bagaimana dengan perkembangan hasil risetnya yang minggu lalu diperbaiki?”
“ Sudah diperbaiki Sensei, dan siap zemi lagi minggu depan”
“ Tapi coba saya ingin membacanya lagi, tiga hari kedepan saya kasih kabar apakah minggu depan perlu zemi lagi atau tidak?”
“ Ok sensei, terima kasih”
“ Nahh..sambil menunggu kabar tiga hari kedepan, sekarang coba baca artikel di Journal Science.edu.net edisi minggu ini tentang energi alternatif !”
“ Oh terima kasih sensei “
“ Ok sampe ketemu tiga hari lagi “

###
Matahari sore itu segera berselimut bumi, waktu bergerak begitu cepat, obento makan malamku sudah kuhabiskan. Seusai hela nafas sejenak,jemariku kembali membelai keybord komputerku. Kali ini kupenasaran dengan berita bunuh diri gadis Jepang siang tadi. Bukan peristiwanya yang membuat ku menarik, tapi gadis Jepang itu, bukan kecantikannya, tapi kuingin tau dibalik kepalanya. Apa yang ada di kepalanya ? pikirannya? Logikanya? Adakah ia berfikir setelah kematiannya? Iihh…kok aku jadi merinding…tapi …bukankah manusia Jepang tidak meyakini hari setelah kematian? Aku masih salah memahami manusia Jepang. Inikah artinya tidak perlu Tuhan bagi manusia Jepang? Langkah Otakku masih terlalu pendek.

Sebuah Deskripsi Dari Skenarioku

Sebuah Deskripsi

Kereta &Sakura adalah sebuah film perpaduan antara dua budaya. Meski sulit kedua budaya itu terwakili dalam sebuah kisah ini, tetapi keberadaan manusia Indonesia di Jepang telah memberi inspirasi bagi hadirnya Film sederhana ini.Manusia Indonesia dalam film ini difokuskan pada keberadaan Sekolah Republik Indonesia-Tokyo yang keberadaanya lebih dari 40 tahun dan hampir tak tersentuh oleh mata bangsa Indonesia di tanah air. Pergolakan batin manusia didalamnya hadir dalam berbagai masalah terutama ketika anak muda bangsa Indonesia menyatu dalam budaya kosmopolitan Tokyo dan karakter manusianya yang menantang, mengesankan, dan kadang menumbuhkan sejuta tanya?.
Film ini sepenuhnya bukan film dokumenter tetapi mungkin lebih tepat dinamakan film dokumenter imajinatif, drama dan sedikit komedi romantis. Namun sisi-sisi manusiawi dan transendent juga mewarnai pergolakan masalah dalam perjalanan waktu yang mereka lalui dan tak mengenal kompromi itu. Pengalaman mengesankan akan menjadi faktor penting dalam pembentukan watak kebangsaan para aktor didalamnya.Termasuk pengalaman mereka yang seringkali menjalankan misi diplomasi budaya dan bahkan arbaito. Film yang didukung oleh aktor dan aktris pemula yang hampir semuanya siswa-siswi Sekolah Republik Indonesia Tokyo telah memberi warna tersendiri dalam berbagai karakter yang dimainkanya.
Bermula dari sebuah sekolah di musim semi. pulang sekolah, naik sepeda, jalan kaki lewat bawah pohon sakura, lewat Kuming, mampir di warung shoba dan naik kereta. Kisah-pun dimulai.
"Gomenasai.. sampai disini dulu, bagi yang berminat bikin film, Skenarionya bisa minta langsung via email ke ubedilah_b@yahoo.com.sg"
Tokyo, April 2004
Penulis Skenario
Ubedilah badrun

Sakura di Musim Dingin

“ Sakura di Musim Dingin?”
By Ubedilah Badrun

“ Ah…serbuk sakura itu membuat hidungku pagi ini mampet !, kalau tau begini aku kapok juga nihh pesta yakiniku di bawah pohon sakura itu”. “ Tapi kan enak bisa ketemu mahasiswa tajir dari Tokodai?” sergah Lia yang juga baru saja merapikan tempat tidurnya. “ Apaan ketemu !? Pas ketemu langsung bengong gitu? Tapi asyik juga sih meski tidak banyak bicara tapi karena sambil makan yakiniku jadi serasa ngomong juga sih karena mulutku aktif menikmati daging bakar itu” jawab Tiara..
“ Woiii… kok bangun tidur langsung ngomel sih? Aku jadi kebangun tauu?” Linda yang juga satu kamar di Apatto Otorijinja itu ikut nimbrung ngomel meski masih memeluk bantal guling. “ ehh, Lin, sengaja gue ngomel tau, sebab gue mimpi sudah musim sakura, apalagi ketemu si mahasiswa Tokodai itu. Duhh mimpi indah deh, makanya gue langsung ngomel, biar eloh bangunn….hehehe…udah siang, ayoh bangun! ujar Tiara. “ Ok deh kakaakk..” sahut Linda dengan wajah keselnya.

Tiara, Lia dan Linda kini satu apato di daerah Otorijinja. Mereka tidak lagi bersama orang tuanya. Orang tua Tiara yang Direktur sebuah Bank Perwakilan Tokyo itu harus ke tanah air karena masa kerjanya berakhir. Lia yang memang sejak kecil di Tokyo terlalu asyik dengan kehidupan Tokyo hingga meski orang tuanya yang pengusaha itu harus pulang ke Indonesia, Lia enggak mau pulang. Linda juga enggak mau pulang meski bapaknya yang finance director di Perusahaan Penerbangan Nasional itu berakhir masa tugasnya. Mereka bertiga sebentar lagi semester II Kelas XII di Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Sebab Jum’at pekan depan akan dibagikan Lembar Kompetensi Siswa atau pembagian buku raport bagi siswa yang belum menggunakan kurikulum 2004 dan muatan lokal Jepang.

“ Tanggung !” “ Kan satu semester lagi, jadi ngapain pulang?! Mendingan sekalian lulus dari SRIT, teruss kalau ada peluang kuliah di Tokyo ngapain juga pulang?! Hehehe…PD abis nih gue, emangnya gampang yah bisa kuliah di Tokyo?!” Begitu Tiara mengakhiri kalimatnya saat di wawancarai majalah Sekolah.

“ Ferry…ada kejutan nihh? Si Tiara enggak jadi pulang!” “ Hah ! kok enggak jadi? ,
bukanya dua minggu yang lalu udah pamitan ama gue, katanya pas liburan Semester I ini pulang ke Indonesia?!”. “ Niihh..liat nihhh…gue yang mewawancarai Tiara” Tossan sambil menunjukkan majalah sekolah. “ sebenernya sih emang di suruh pulang ama Papahnya, tapi Tiara enggak mau, ya udah waktu itu gue wawancarai diem-diem sehari sebelum majalah sekolah yang di kelola adik kelas naik cetak, teruss pas udah tau jawabanya gue enggak mau ngasih tau eloh sebelum tuh majalah jadi kemaren…hehehe” “ sialan luh Toss!” sergah Ferry. “ Ok deh ferr…bye” Tosan lari menuju halte Bus 06 untuk ngantri masuk bis tujuan Meguro. Sementara ferry bengong sambil ngomel “ sialan juga nih Tiara!, tapi ok deh its surprise ”. “ Kak Ferry, tuhh… papah datang” sahut Pipit adik Ferry yang sedari tadi memperhatikan kakaknya yang ngomel-ngomel sendiri. Kedua adik kakak itu kemudian memasuki Mercy warna biru tua dan meluncur pulang.


“ Papah, jangan lupa Senen besok bagi raport !”
“ Iya iya, papah udah baca kok surat dari sekolah yang kamu berikan lima hari yang lalu”
“ohh, ok deh”
Setelah beberapa kilometer perjalanan menuju rumah mereka. Pipit tiba-tiba menghentikan dialog Papahnya dengan ferry.
“ Pah ! Pipit usul nih, tapi usul pipit harus diterima sama Papah dan Mamah nanti !”
“ Lho kok usulnya maksa diterima Pit?”
“Iya dong Pah, kan usulanya asyik”
“Emang apaan?” sergah Ferry.
“Kak ferry nih enggak sabaran yeeee! Pipit usul ama Papah kok kak Ferry yang penasaran?!” “hehehehe”. Pipit melanjutkan kalimatnya dengan wajah dan gaya bicaranya yang sok dewasa meski baru kelas dua SD. “ Ok deh, jadi pipit mengusulkan bahwa setelah bagi raport nanti kan liburan selama dua minggu, gimana kalau minggu pertama kita pergi maen Ski ke Gunma?”
“Wah, its good idea Pipit”
“Tuuh kan Pah, kak Ferry pasti setuju”
“ Iya..iya..papah juga jadi pengen ongseng ke Gunma nihh…hehehehe…”
“ Horeeeeee Papah setuju”
“ Tapi belum tentu loh Mamah setuju?”
“ Ah kak Ferry nih kaya enggak tau hati Mamah aja?” “Mamah pasti setuju deh, kan yang usul Pipit!”.
“ Enggak juga kok, kan tujuh bulan yang lalu Pipit pernah punya usul pengen ke Kyoto , teruss Mamah enggak setuju, inget kan?!”
“hehehehe…kak Ferry kak Ferry, ini kan usulnya lebih ringan ketimbang ke Kyoto!”
“Maksudnya?”
“ Yeeee..kak ferry nih, sudah kelas XII, enggak cerdas-cerdas juga, katanya ranking satu?! “hehehehehe..”. Pipit menyindir Ferry yang tidak cepat menangkap maksud pipit.
“Maksudnya, kan biaya ke Gunma lebih murah ketimbang kita ke Kyoto!”
“Ohh, Ok deh dik Pipit yang pinterrr, mudah-mudahan Mamah setuju”.
“ Sudah-sudah ngobrolnya, kita sebentar lagi nyampe” papah kedua adik kakak itu memotong pembicaraan mereka.
“ Oh iya, ok deh papah” jawab Pipit
“ Sudah Pit, ayoh turun!” perintah Ferry.
“Ok deh kakak, kita udah nyampe yahh?”
“Yeeeeeee…cepet-cepet, udah nyampe tau!”
“ Yeee, papah aja enggak maksa, kak Ferry nih sok maksa!”
“Tapi ok deh kakaak” Pipit akhirnya turun juga dari Mercy.
“ Tadaimaaaa…” begitu ucapan Pipit sesaat setelah buka pintu rumah.
“Eh ! Pit, pakai assalamualaikum dong?” “ entar Mamah marah looh, baru belajar bahasa Jepang aja udah sok Nihonjin”
“Ok deh kakak, assalamualaikum?”
“Waalaikumsalam, ohhh Pipit, kirain siapa pake tadaima segala tadi?”
“Yoi mamah, maksud pipit mau membiasakan pake bahasa jepang mah?”
“Ohh..begitu, boleh juga, tapi jangan lupa assalamualaikum nya yahh?
“Ok deh Mamah..”

Ferry yang juga baru datang setelah cium tangan mamahnya langsung menuju kamar untuk istirahat dan ofuro. Begitu juga papahnya dan Pipit. Dua jam kemudian mereka berkumpul kembali untuk makan malam.
“ Mah, Pipit boleh usul enggak?”
“Boleh, usul apaan Pit?”
“ Setelah bagi rapot kan liburan mah dua minggu, jadi Pipit usul minggu pertama liburan kita ke Gunma aja, maen Ski, sekalian mamah ama papah ongseng, kan enak, gimana mah? Murah meriah loh mah dibanding ke Kyoto? Hehehehe..”
“ Emmm…ok juga usulnya kamu Pit, boleh-boleh, tapi ada syarat!”
“Syaratnya apa mah?
“ Kamu berdua harus ranking satu!?”
“Ok deh Mamah, mamahkan udah ngeliat hasil ulangan harian Pipit sama kak Ferry, kan nilainya selalu diatas teman-teman, jadi pasti deh ranking satu” Jawab Pipit dengan gayanya yang sedikit congkak.
“ Pipit ! jangan sombong begitu yahh, Mamah enggak suka kalau punya anak pinter tapi sombong!”
“ Ok deh mamah, maaf, tapi Mamah setuju kan kalau kita ke Gunma?”
“Ok, Mamah setuju, tapi gimana menurut papah sama Ferry?”
“Yeeee..Mamah terlambat, kak Ferry sama Papah udah setuju tadi waktu di mobil”
“ Ohhh, pantesan pada diem semua”
“ Hehehehe...” Papah dan Ferry tertawa kecil. Dan kemudian mereka menikmati makan malam di musim dingin itu. Shabu Shabu menjadi menu wajib di musim dingin mereka. Winter tanpa Shabu Shabu seperti springtime tanpa sakura.

Waktu terus berlalu, pembagian rapot telah tiba setelah berbagai kegiatan perlombaan dilakukan, dari lomba Bulu tangkis, Floor ball, sampe Foreign Language Competition.
“ Wah, mah alhamdulillah anak kita dua-duanya ranking satu”
“ Oh ya pah? Alhamdulillah. Mudah-mudahan ahlak mereka dan kreatifitas mereka juga bagus”.
“ Maksud Mamah?”
“ Maksudnya kita kan akan lebih bahagia kalau anak kita tidak hanya ranking satu dalam kelas tetapi juga memiliki ahlak yang bagus, karakter kebangsaan yang bagus dan menjadi anak yang kreatif”
“Ohh…mamah nih emang hebatt “
“Yeeehh..Papah nih mulai gombal deh”
“ Oh ya Mah, si Pipit sama Ferry pasti nagih kita ke Gunma karena mereka ranking satu”
“ Oh iya, Mamah setuju kok pah, no problem”
“ Ok deh Mamah..”

Gunma adalah daerah perbukitan ke arah utara Tokyo. Kurang lebih membutuhkan 4 jam perjalanan dari Tokyo. Di wilayah Gunma ada area Ski yang menarik, yaitu di Kusatsu. Disinilah Ferry, Putri dan kedua orang tuanya menikmati liburan.

“ Kak Ferrry, ke lantai empat yuuk?”
“ Hah !?” “ Baru pake sepatu dan papan ski sudah minta langsung ke lantai empat!?”
“ Enggak, enggak, jangan dulu ke lantai empat Pit”
“Yeee..kak Ferry penakutnya masih ada..hehehehehehe, inget dua tahun lalu yahh?”
“ Emang kamu tau dari mana?”
“ Kata kak Tiara waktu itu, pas ketemu Pipit di lantai tiga, kak Tiara bilang bahwa kak Ferry pipis di lantai empat, ketakutan setelah turun dari skylift lantai empat…hehehehehehe.”
Dalam hati ferry bergumam“ Sialan tuh si Tiara, ngebocorin rahasia gue juga!!”
“ Enggak kok Pit, Kakak asyik kok di lantai empat”
“Ohh, kalau begitu kita langsung ke lantai empat aja yuuk kak?”
“ Tapi pemanasan dulu yahh?”
“ Ok deh kakak”
Setelah mereka pemanasan, segera saja meluncur ke skylift dengan tujuan ke lantai empat.
“ Eh Pit, mamah sama papah mana?”
“ Tuh Dia di restoran ngeliatin kita dari balik kaca jendela restoran”
“ Oh iya, kita kasih dadah ke mereka yuukk?’
“Ok deh kakak”
“ Dahh mamah papah…...”
Kedua anak melambaikan tangan ke arah orang tuanya sambil meluncurkan kedua kakinya mengikuti laju papan ski yang begitu cepat meluncurr.

Turun dari Skylift lantai empat kakak adik itu langsung meluncur mengikuti arah yang telah lebih dulu dilalui para Nihonjin.
“ Wah Pit, cuacanya hari ini walaupun agak turun yuki cuacanya enak yahh? “ “ Saljunya juga enggak mengeras, jadi asyik dan aman buat meluncurnya”
“ Iya yah kak, asyik bangett, apalagi kalau ada kak Tiara deh”
“ Heh, Pit, jangan ngomongin kak Tiara melulu dong, kak Ferry entar enggak konsen deh maen ski-nya”
“Ok deh kakak”
Sambil meluncur diatas papan Ski sepanjang perjalanan mereka, adik kakak itu benar-benar menikmatinya sambil berbicara satu sama lainya. Tiba-tiba secara tak terduga dari arah belakang sebelum belokan jembatan di pertengahan perjalanan lantai empat, Pipit tertabrak oleh pemain snowbord hingga terpental ke arah jurang tepat di belokan sebelum jembatan lantai empat.
“ Kak Ferryyyyyyyyyyy..!!” teriak Pipit.
Ferry kaget dan kalap langsung mencaci maki si Nihon Jin yang dengan enaknya langsung berdiri dan mengatakan “ gomenasai” dan meluncur lagi dengan cepat meninggalkan Ferry. Entah jangan-jangan Nihonjin itu enggak melihat ada Pipit karena terhalang kabut Yuki .
“ Bakhaero!!” Kata-kata kasar begitu saja keluar dari mulut Ferry.
Sementara Pipit terpental ke arah jurang dan segera saja Ferry menolong Pipit dengan memberikan stik Ski untuk bisa dipegang Pipit agar pipit bisa naik ke atas. Namun justru Ferry yang kemudian jatuh tersungkur menabrak Pipit hingga keduanya makin jauh jatuh ke arah jurang yang penuh dengan pepohonan. Keduanya tertelan hutan dan kabut salju, tak satupun pemain ski yang melihat mereka, kecuali si pemain snowbord tadi saat menabrak Pipit.
Hari semakin gelap, Ferry dan Pipit masih di lembah perbukitan Kusatsu Gunma. Kedua orang tua mereka makin gelisah, apalagi setelah petugas area sky Kusatsu mengumumkan bahwa sudah saatnya area sky di tutup karena sudah gelap. Kegelisahan orang tua mereka makin kuat hingga kemudian mereka melaporkan ke pusat informasi Kusatsu area Ski. Petugas patroli berjumlah 5 orang meluncur ke lantai empat menyisir dan mencari keberadaan Ferry dan Pipit segera setelah laporan orang tua Ferry dan Pipit disampaikan.

Helikopter dan motorski petugas patroli pun tak berhasil mencari mereka, hanya satu sebabnya. Hari sudah gelap. Hingga menyulitkan pencarian mereka. Namun demikian mereka tetap mencari.

Ferry dan Pipit baru saja terjaga dari pinsan-nya, mereka terkejut karena hari begitu gelap dan merasakan ada darah mengalir dari kening mereka sehingga kepala mereka terasa nyeri dan pusing. Rupanya ketika Ferry menolong Pipit dan kemudian jatuh tersungkur menabrak Pipit, keduanya terbentur batu dekat pohon besar di lembah Kusatsu itu. Air mata segera saja mengalir dari mata Pipit setelah sadar bahwa kakaknya juga berdarah keningnya dan kini berada dalam kegelapan malam. Ferry pun ikut larut dalam kesedihan adiknya.
“ Tapi saya harus kuatt!” begitu kata Ferry dalam hatinya.
“ Pipit, udah yahh, jangan menangis teruss yahh?” “ Kita akan kembali ke Youth Hotel kok, ketemu mamah sama papah lagi”.

Dimalam itu petualangan pun dimulai. Mereka menelusuri hutan yang penuh dengan salju. Ranting-ranting kering pepohonan semunya terisi oleh salju hingga pepohonan nampak seperti berdaun salju. Yang mereka lihat hanyalah warna hitam dan putih. Kegelapan malam dan warna salju. Makin jauh berjalan makin jauh tersesat , permen lotte yang mereka bawa pun sudah habis, minuman yang mereka bawa juga habis hingga makanan satu-satunya yang mereka makan adalah salju. “Rasanya kaya eskrim” Begitu kata Pipit.

Dalam kelelahan perjalanan mereka, tiba-tiba segerombolan binatang berwarna hitam mendekati mereka. “ Babi Hutan!!” kata Ferry. “ Diem Pit !!” bisik Ferry. “ Jangan bergerak Pit!!”. “ Iya kak!”. Segerombolan Babi Hutan itu mendekati Ferry dan Pipit. Babi hutan itu menjilati kaki kedua adik kakak itu dan sesekali mengigit. Wajah Pipit dan Ferry pucat pasi. Keringat dingin keluar bercucuran. Namun karena yang digigit begitu keras ( Sepatu ski dan papan ski) Babi hutan-pun kebingungan. Tetapi tiba-tiba Ferry kebelet pipis. Mungkin karena ketakutan yang luar biasa, sehingga Ferry tak kuat menahan pipis. Babi Hutan justru kaget karena merasakan ada cairan hangat. Hingga gerombolan babi hutan itu tiba-tiba berlari kencang meninggalkan kedua adik kakak yang tersesat itu. Namun beberapa menit kemudian gerombolan babi hutan itu datang kembali karena mencium bau darah segar. Hmmmm…